Jumat, 06 Juli 2012

Irna Ber-Fashion Show di Paris

Irna, pemilik PT Trimoda Update ber-fashion show ke Paris
 SUARAPOS.blogspot.com - Fokus dan tidak berputus asa menjadi kunci sukses Irna Mutiara berbisnis butik busana muslim, Trimoda Uptodate. Meski mengawali bisnis dengan satu mesin jahit, berkat kegigihannya kini dia mampu mengantongi omzet miliaran rupiah per bulan.

Bisnis busana muslim sejak beberapa tahun terakhir makin ngetren. Desain busana muslim yang semakin modern makin ramai di pasaran. Salah satu butik yang menjadi langganan artis Henidar Amroe, Berliana Febrianti, dan Saskia Adya Mecca adalah milik Irna Mutiara. Di bawah bendera PT Trimoda Uptodate, Irna memproduksi busana muslim kasual bermerek Uptodate, produk gaun pesta bermerek Irna La Perle, dan busana pengantin muslim La Perle.

Butik Irna yang berlabel Uptodate tersebar di beberapa wilayah mulai Bandung, Jakarta, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jambi, Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang, dan Samarinda. Irna sudah memiliki 27 butik. Dalam sebulan, Irna mereguk omzet Rp 2 miliar. Di musim Lebaran, omzet Irna menggemuk. Omzet Irna mencapai Rp 36 miliar per tahun. 

Busana rancangan Irna ternyata juga digandrungi konsumen dari luar negeri. Untuk itu, Irna pun berupaya untuk membuka butik di Kanada, Singapura, dan Malaysia. “Masih penjajakan, kebetulan banyak pelanggan di sana karena kami juga sering fashion show di sana,” ujar ibu tiga anak ini. 

Untuk memperkenalkan produk hasil rancangannya, Irna rajin melakukan pameran dan fashion show di beberapa negara. Akhir tahun lalu dia baru saja memamerkan busana pengantin muslim hasil rancangannya di Paris. Sebelumnya dia juga sudah memperagakan busananya di Mesir, Dubai, Abu Dhabi, Hong Kong, Shanghai, dan beberapa kali di Malaysia.
Sempat bangkrut
Keberhasilan Irna berbisnis busana muslim tidak didapat dengan mudah. Setelah lulus sekolah menengah atas tahun 1988, Irna mengikuti kursus tata busana selama setahun. Tahun 1989, dia kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung jurusan tata busana “Sejak kecil saya suka dengan dunia desain, kebetulan ayah seorang tukang jahit,” kata perempuan kelahiran Bandung, 
24 Januari 1970 ini. 

Namun karena orangtua tidak mampu membiayai kuliah, Irna terpaksa kuliah sambil kerja. Berbekal sertifikat kursus, Irna berhasil menjadi desainer di perusahaan garmen yang cukup besar di Bandung. Perusahaan itu merupakan salah satu pemasok baju anak di salah satu department store. Sekali order bisa 200 lusin per desain. “Tuntutan pekerjaan ini membutuhkan fokus, saya memutuskan untuk keluar kuliah di semester empat,” ujarnya. 

Irna bekerja selama lima tahun di perusahaan garmen tersebut. “Karier saya mentok di perusahaan itu. Saya butuh tantangan yang lain,” kenangnya. Irna pindah kerja ke sebuah perusahaan garmen yang lain di Bandung. Pekerjaan Irna di perusahaan ini merangkap sebagai kepala produksi, marketing, dan desainer. Dengan pengalaman itu, dia mulai mempelajari proses menjalankan usaha di bidang garmen. Irna hanya bertahan selama enam bulan di perusahaan ini karena ingin mengasuh anak di rumah. 

Dengan bermodal jaringan dan uang dari hasil kerjanya di perusahaan yang lama, Irna membuka usaha konveksi. “Saya buka usaha karena ingin bantu suami plus karena mimpi-mimpi saya masih banyak yang belum terwujud,” kata Irna yang pekan lalu baru saja fashion show di Malaysia. Bermodal enam mesin jahit, dia menerima orderan dari department store pada 1996. Usaha ini berjalan cukup lancar, Irna sudah mendapatkan orderan tetap. Sayang, tahun 1998 terjadi krisis keuangan, mitra yang selama ini order baju menyetop pesanan. Stok bahan baku Irna yang belum dibayar pun mubazir. Dia menelan kerugian hingga Rp 90 juta. Mobil dan mesin jahitnya dijual untuk membayar utang.

Karena merasa punya kemampuan di bidang desain fashion dan jahit menjahit, Irna tetap berambisi berbisnis di bidang itu. Beberapa bulan setelah bangkrut, dia mulai bisnis fashion dengan strategi berbeda. “Saya buka layanan jahit private order, saya masuk kantor ke kantor untuk menawarkan jasa jahit,” kenangnya.

Mulai dari order perorangan menjahit baju kantor, sampai akhirnya dia menerima order 3000 seragam pegawai ticketing dari PT Kereta Api Indonesia. Orderan seragam dari berbagai perusahaan dalam jumlah besar pun berdatangan. Perusahaan pertambangan di Kalimantan pun menjadi langganannya. 

Tahun 2004, Irna mengikuti lomba desain busana muslim di salah satu majalah dan menang. Baju muslim kasual rancangan Irna dipajang di majalah tersebut dan pesanan mulai mengalir. “Kala itu baju muslim kasual berbahan kaus belum ada, jadi rancangan saya yang berbahan kaos diminati,” katanya.

Berawal dari sinilah dia mulai mengembangkan busana muslim rancangannya. Hingga akhirnya tahun 2006, dia memutuskan untuk konsentrasi berbisnis busana muslim. Bersama dua rekannya dia mendirikan PT Trimoda Uptodate bermodal Rp 15 juta. Uang itu digunakan untuk membeli bahan baku karena Irna sudah memiliki alat produksi. Sekarang Irna mempekerjakan 250 karyawan. (Fransiska Firlana/
Kontan)
 Sumber : Kontan

Artikel Terbaru